Pagi itu, 13 Agustus 2024, embun masih menggantung tipis di atas hamparan perbukitan Kalimantan Timur ketika pesawat yang saya tumpangi menjejak landasan. Ada sensasi berbeda saat pintu pesawat terbuka—sebuah perasaan campuran antara rasa penasaran, haru, dan antusiasme. Inilah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah yang kelak menjadi pusat peradaban baru Indonesia: Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dari kejauhan, lanskap IKN menampakkan diri bukan sebagai hutan belantara yang tak tersentuh, tetapi sebagai ruang yang sedang “bernapas”—bergerak menuju masa depan. Deretan alat berat terlihat berdampingan dengan pepohonan tinggi yang masih berdiri kokoh. Udara terasa segar, bahkan lebih segar dari yang saya bayangkan. Di sinilah, di hamparan seluas bermil-mil ini, sebuah mimpi besar bangsa sedang dibangun.
Gerbang Nusantara dan Kesan Pertama
Begitu keluar dari bandara sementara, kesan pertama yang saya dapatkan adalah keteraturan. Pengaturan mobilisasi tamu, kendaraan shuttle, hingga penunjuk arah menuju Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) terasa rapi. Papan-papan informasi berdiri di berbagai titik, sebagian besar bertuliskan “Selamat Datang di Nusantara—Hijau, Cerdas, Berkelanjutan”.
Di mobil shuttle, pemandangan sepanjang jalan menuju KIPP sungguh memanjakan mata. Jalan-jalan baru membelah bukit, tetapi sisi kiri dan kanan masih menyisakan ruang hijau yang luas. Seorang petugas yang duduk di depan bercerita bahwa desain IKN dirancang dengan prinsip forest city. Artinya, pembangunan tidak menghapus alam, tetapi menyatu dengannya. Di beberapa titik, saya melihat tanda-tanda rehabilitasi ekologis: pepohonan baru ditanam berjejer, ada pagar pelindung untuk vegetasi asli, dan di kejauhan terlihat pergerakan satwa liar.
Di tengah perjalanan, shuttle melewati sebuah jembatan panjang yang menghubungkan dua bukit. Dari ketinggian, bentangan hutan tampak seperti permadani hijau raksasa. Sesekali sinar matahari menembus celah daun, seperti spotlight alam yang memandu perjalanan kami.
Memasuki Kawasan Inti Pemerintahan
Setibanya di KIPP, suasana berubah lebih dinamis. Ratusan tamu undangan, pejabat pemerintah, tenaga ahli, dan pelajar terlihat memenuhi plaza. Bangunan-bangunan pemerintahan berdiri megah namun tetap mengusung konsep arsitektur Nusantara modern—banyak menggunakan elemen kayu, pola anyaman, dan struktur yang mengalir seirama kontur tanah.
Yang paling mencolok, tentu saja, adalah Istana Negara Nusantara. Siluet Garuda raksasa yang menjadi ciri khasnya tampak anggun meski belum sepenuhnya rampung. Kilauan panel-panel logamnya memantulkan cahaya matahari pagi, memberikan kesan bahwa bangunan ini lahir dari perpaduan antara kekuatan dan kejernihan visi.
Di sekitar istana, titik-titik kegiatan padat oleh pers dan tim protokoler. Sementara itu, para peserta diarahkan menuju gedung serbaguna tempat acara pengarahan Presiden RI akan berlangsung.
Acara Pengarahan Presiden
Tepat pukul 10.00 WITA, Presiden Republik Indonesia memasuki ruangan. Tepuk tangan bergema, namun dalam batas formalitas acara kenegaraan. Beliau membuka pengarahan dengan kalimat sederhana namun sarat makna:
“Hari ini bukan sekadar seremoni. Hari ini adalah saksi sejarah bahwa Indonesia sedang menentukan arah masa depannya.”
Presiden menjelaskan perkembangan pembangunan IKN hingga tahap tersebut, menekankan bahwa IKN bukan hanya pemindahan ibu kota, tetapi transformasi cara kerja, cara berpikir, dan cara hidup bangsa. Beliau menyoroti konsep smart city dan green city—dua fondasi utama Nusantara.
Smart city berarti seluruh aspek kehidupan di IKN akan terkoneksi teknologi: transportasi tanpa emisi, layanan publik berbasis digital, hingga pusat data pemerintah yang terintegrasi. Sementara green city berarti efisiensi energi, energi terbarukan, ruang hijau 65%, serta rancangan kota yang ramah terhadap manusia dan satwa.
Dalam pengarahan itu pula, Presiden menegaskan bahwa IKN dirancang untuk menjadi simbol pemerataan, bukan hanya kemajuan ekonomi tetapi juga peradaban. “Kita ingin Nusantara menjadi kota yang membuat setiap warganya bangga. Kota yang memuliakan alam dan membuka kesempatan seluas-luasnya bagi generasi muda,” ucapnya.
Tur Lokasi dan Kejutan-kejutan Menarik
Selepas pengarahan, para tamu diajak mengikuti tur singkat ke beberapa titik pembangunan. Salah satu tempat yang membuat saya terpukau adalah Sumbu Kebangsaan—koridor panjang yang menghubungkan Istana Presiden, Lapangan Upacara, dan berbagai bangunan kementerian. Dari titik tertentu, garis pandang langsung menuju istana dengan latar belakang bukit dan langit biru yang luas.
Di sisi kiri sumbu, terdapat area publik yang kelak menjadi ruang berkumpul masyarakat Nusantara. Ada taman-taman kontemporer, pepohonan rindang, serta jalur pedestrian lebar yang kelak akan menjadi jalur ramai pada akhir pekan. Membayangkan aktivitas warga di masa depan—jogging, bersepeda, atau duduk santai dekat air mancur—membuat hati saya ikut hangat.
Tidak jauh dari situ, pembangunan gedung-gedung kementerian sudah terlihat seragam, teratur, dan modern. Banyak pekerja yang masih beraktivitas. Mereka bekerja dalam ritme cepat namun terkoordinasi, seolah sedang berpacu dengan waktu menuju momen besar: peresmian fase pertama IKN.
Hal menarik lainnya adalah penjagaan alam. Di satu titik tur, kami diberi tahu bahwa ada jalur satwa yang tetap dipertahankan. Bahkan, jembatan-jembatan khusus untuk pergerakan fauna sedang disiapkan. Sebuah komitmen bahwa pembangunan Nusantara tidak berarti menghancurkan rumah bagi makhluk lain.
Interaksi dengan Warga Lokal
Saat istirahat makan siang, saya sempat berbincang dengan beberapa warga dari Sepaku dan Balikpapan yang diundang dalam acara. Mereka bercerita bahwa sejak proyek IKN berjalan, peluang kerja meningkat, akses jalan semakin baik, dan banyak pusat pelatihan disiapkan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat.
“Sekarang kami lebih optimis. Anak-anak kami nanti bisa sekolah dan bekerja dekat rumah,” kata seorang bapak paruh baya sambil tersenyum bangga.
Namun mereka juga berharap agar kearifan lokal tidak tersisih, agar budaya suku-suku asli tetap diberi ruang di IKN kelak. Harapan itu selaras dengan visi pemerintah yang ingin menjadikan Nusantara sebagai kota yang menghormati keberagaman etnis.
Menutup Hari dengan Rasa Haru
Menjelang sore, matahari mulai condong ke barat dan cahaya keemasan menyiram lembut seluruh area KIPP. Dari sebuah bukit kecil yang tidak jauh dari lokasi acara, saya berdiri sejenak, mengamati panorama luas IKN.
Di hadapan saya, masa depan itu tampak nyata. Bukan lagi sekadar konsep di atas kertas, tapi wujud yang sedang bertumbuh. Ada jalan yang sudah jadi, ada gedung yang sudah berdiri, ada ruang publik yang dirancang untuk generasi masa depan. Semuanya menyampaikan pesan jelas: Nusantara bukan hanya kota pemerintahan, melainkan simbol harapan.
Saat shuttle kembali mengantarkan saya menuju bandara, perasaan itu masih menggantung: sebuah kehormatan bisa menyaksikan sejarah dari dekat, menginjakkan kaki di kota yang pada 13 Agustus 2024 ini sedang menyiapkan diri menjadi pusat baru Indonesia.
IKN bukan sekadar mimpi. Ia tengah menjadi kenyataan—pelan, pasti, dan penuh makna.
Catatan kecil Pj. Bupati Bondowoso







